Tag Archives: sistem perpustakaan mandiri

Perlukah Terminal-Kiosk-Station Self Checkout di Perpustakaan

A young patron checks his book out at the self checkout station in a Lake County library. Sheryl DeVore/Tribune

A young patron checks his book out at the self checkout station in a Lake County library. Sheryl DeVore/Tribune

Coba perhatikan gambar di samping. Blog asal gambar ini menuliskan: “Children enjoy it. Patrons like it”. Sampai seorang anak kecil tidak hanya bisa menggunakan namun juga menyukai alat itu.

Ya, gambar di samping adalah terminal atau sering disebut kiosk untuk melakukan peminjaman buku mandiri. Di Indonesia, hal ini belum jamak.

Apa saja keuntungan menggunakan menngunakan anjungan transaksi-pinjam mandiri (ATM, maksa yah,hehehe) tersbut? Menurut saya, paling tidak ada 4 hal yang membuat ATM  ini menguntungkan:

1. Mengurangi antrian. Ya, proses peminjaman yang cepat tentu saja akan membuat setiap peminjam tidak berlama-lama menunggu petugas mengetikkan di keyboard nomor ID peminjam dan kode-kode buku yang akan dipinjam (hehehe, ini mah kuno ya). Tapi menggunakan barcode scanner juga masih lama, karena pemrosesan buku dipinjam masih satu-satu. Dengan kiosk self-checkout ini, setumpuk buku bisa dipinjam (check out) sekali pindai (scan) menggunakan pemindai/scanner RFID yang tertanam di dalam kiosk/terminal/ATM ini.

2. Meningkatkan sirkulasi. Ya juga, dengan cepatnya proses maka transaction per minute (tpm) nya meningkat. Maksud saya adalah, jumlah buku yang disirkulasikan akan meningkat dan jumlah pengunjung yang terlayani juga lebih banyak. Artinya, sirkulasi buku meningkat.

3. Tidak mengeliminasi pekerjaan librarian/pustakawan/petugas perpustakaan. Banyak yang akan berpendapat bahwa perannya akan dihilangkan dengan adanya alat ini. Seharusnya tidak demikian, petugas bisa lebih meningkatkan kapasistasnya melayani pemustaka/user/patrons dalam mencari buku yang diinginkan (lebih dari sekadar membantu mengantarkan ke lokasi rak bukunya) dan  membantu melakukan riset pustaka.

4. Privacy peminjam, Banyak pengunjung perpustakaan yang sebenarnya tidak ingin diketahui meminjam sebuah buku tema tertentu, namun karena malu kepada penjaga counter peminjaman, dia mengurungkan niatnya untuk meminjam buku tersebut,  yang alih-alih membuat buku itu kumel karena hanya dibaca di perpustakaan namun tidak pernah dipinjam.  Dengan adanya anjungan transaksi-pinjam mandiri menggunakan teknologi RFID ini, maka tingkat buku terpinjam bisa juga meningkat.

Keuntungan-keuntungan di atas menggambarkan bahwa banyak indikator kinerja perpustakaan yang bisa meningkat/ditingkatkan. Perihal kinerja ini, rekan kami Pak Ir. Subagyo, S.Sos, M.Si banyak memiliki dan menulis artikel perihal ini. Nanti saya dorong untuk bisa share di sini.

Lalu, dari banyaknya keuntungan atau kelebihan di atas, apa iya tidak ada kekurangannya. Salah sat kekurangannya adalah peralatan ini sangat mahal yang membuat alat ini tidak terjangkau (unaffordable) oleh kebanyakan perpustakaan di Indonesia. Ya, alat ini berkisar US$ 20.000 per station nya termasuk software, atau hampir 200 juta rupiah. Mungkin ada kekurangan lain yakni apabila alat ini rusak, maka akan sulit buat pustakawan untuk memperbaikinya. Saya pribadi pernah menemukan alat sejenis ini menjadi pajangan saja di sebuah perpustakaan. hmmm.

Tim MySIPISIS Pro sedang mempersiapkan membuat alat ini, sebuah terminal checkout peminjaman buku di perpustakaan termasuk sistem perpustakaan MySIPISIS di dalamnya dengan harga yang terjangkau dengan bentuk terminal yang bukan sekadar sebuah black-box yang tidak diketahui komponennya. Komponen-komponen di dalamnya bisa ketahui dan diganti sendiri manakala sebuah komponen mengalamai gangguan atau kerusakan. Sebuah RFID reader, monitor touchscreen, dan printer struk  ke dalam sebuah kiosk/station.

Kalau sudah banyak keuntungan dan ada yang sudah terjangkau, maka tentunya pertanyaan judul di atas adalah sebuah pertanyaan retoris yang kita semua tahu jawabnya.

Untuk mengetahui dan menyentuh langsung terminal checkout (ATM) hasil karya Tim MySIPISIS Pro, ikuti dan datang langsung ke Seminar dan Workshop Membangun Katalog Bersama  (union catalog) di Bogor, 6 dan 7 Juli 2011 mendatang.

Leave a comment

Filed under Uncategorized